Senin, 15 Mei 2017

VALIDASI METODE PENETAPAN KADAR PARACETAMOL DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV

HARAP DIBACA TERLEBIH DAHULU

Saya mengharapkan kepada tema-teman sekalian agar tidak sekedar KOPAS dari blog ini. saya harap sebelum laporan praktikum kalian di jilid/ diprint data atau kalimat yang ada disini di edit atau disesuaikan terlebih dahulu sesuai dengan materi teman-teman sekalian. Semoga berkas-berkas laporan ini dapat membantu dalam menyelesaikan tugas-tugas kampus teman-teman semua.
terima kasih atas perhatianya dan selamat mengerjakan.
SELAMAT MENGERJAKAN DIARY KULIAH :D




VALIDASI METODE PENETAPAN KADAR PARACETAMOL DENGAN SPEKTROFOTOMETRI UV




A.    TUJUAN
Ø  Mampu menganalisis penetapan kadar suatu obat yaitu Paracetamol
Ø  Mampu melakukan validasi metode analisis dengan spektrofotometri UV
                            
B.     DASAR TEORI
Spektrofotometer adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu, dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorbsi. Jadi spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut direfleksikan atau ditransmisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Kelebihan spektrofotometer dibandingkan fotometer adalah panjang gelombang dari sinar putih yang dapat lebih terseleksi. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang kontinyu, monokromator sel pengabsorbsi untuk larutan sampel atau blanko dan suatu alat untuk mengukur perbedaan absorbsi antara sampel dan blanko ataupun pembanding.
( SM, Khopkar, 2003)

Spekrofotometri meliputi spektrofotometri ultraviolet dan cahaya tampak dan spectrum serapan dan inframerah. Spektrofotometri serap adalah pengukuran serapan radiasi elektromagnit panjang gelombang tertentu yang sempit, mendekati monokromatik, yang diserap zat. Pengukuran serapan dapat dilakukan pada daerah ultraviolet (panjang gelombang 190 nm – 389 nm) atau pada daerah cahaya tampak (panjang gelombang 380-780 nm).
                 (Anonim, 1979)

Kromofor merupakan semua gugus atau atom dalam senyawa organik yang mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak.
(Gandjar, 2007)

Ada beberapa alasan mengapa haru menggunakan panjang gelombang maksimal, yaitu:
1.      Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar.
2.      Disekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi.
3.      Jika dilakukan pengukuran ulang, maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali, ketika digunakan panjang gelombang maksimal.
(Gandjar, 2007)

Untuk menentukan jumlah (kadar) suatu senyawa tertentu seringkali dapat dilakukan dengan berbagai macam metode. Dalam hal demikian, tugas kimia analisis kuantitatif bukan sekedar melakukan penetapan kadar sesuai dengan prosedur yang ada, tetapi lebih jauh harus harus dapat menentukan pilihan metode mana yang paling baik dan sesuai.
Metode yang baik seharusnya memenuhi beberapa criteria, yaitu metode harus :
1.      Peka (sensitive), artinya metode harus dapat digunakan untuk menetapkan kadar senyawa dalam konsentrasi yang kecil.
2.      Tepat (precise), artinya dalam satu seri pengukuran (penetapan) dapat diperoleh hasil yang satu sama lain hampir sama.
3.      Teliti (accurate), artinya metode dapat menghasilkan nilai rata-rata (mean) yang sangat dekat dengan nilai sebenarnya (true value)
4.      Selektif, artinya untuk penetapan kadar senyawa tertentu, metode tersebut tidak banyak terpengaruh oleh adanya senyawa lain.
5.      Praktis, artinya metode tersebut mudah dikerjakan serta tidak banyak memerlukan waktu dan biaya.
(Mursyidi  dan Rohman, 2006)

Validasi metode menurut United States Pharmacopeiam(USP) dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis akurat, spesifik, reprodusibel, dan tahan pada kisara analit yang akan dianalisis. Suatu metode analisis harus divalidasi untuk melakukan verifikasi bahwa parameter-parameter kinerjanya cukup mampu untuk menhatasi problem analisis, karenanya suatu metode harus divalidasi ketika: metode baru dikembangkan untuk mengatasi problem analisis tertentu, metode yang baku sudah direvisi untuk menyesuaikan perkembangan atau karena munculnya suatu problem yang mengarahkan bahwa metode baku tersebut harus direvisi, ataupun untuk mendemonstrasikan kesetaraan antara 2 metode, seperti antara metode baru dan metode baku.
(Gandjar, 2007)


Selectivity/Specificity. The term selectivity and specificity are often used interchangeably. The term specific generally refers to a method that produces a response for a single analyte only, while the term selective refers to a method that provides responses for a number of chemical entities that may or may not be distinguished from each other.
Precision and Reproducibility. The precision of a method is the extend to which the individual test result of multiple injections of a series of standards agree. The measured standard deviation can be subdivided into 3 categories : repeatability, intermediate precision and reproducibility.
Accuracy and Recovery. The accuracy of an analytical method is the extend to which test result generated by the method and the true value agree. Accuracy can also be described as the closeness of agreement between the value that is adopted, either as a conventional true or accepted reference value and the value found.
Linearity and Calibration Curve. The linearity of an analytical method is its ability to elicit test result that are directly proportional to be concentration of analytes in samples within a given range or proportional by means of well-defined mathematical transformation.
( Huber, 1999 )

Akurasi merupakan ketelitian metode analisis atau kedekatan antara nilai terukur dengan nilai yang diterima baik nilai konvensi, nilai sebenarnya atau nilai rujukan. Akurasi diukur sebagai banyaknya analit yang diperoleh kembali pada suatu pengukuran dengan melakukan spiking pada suatu sampel. Untuk pengujian senyawa obat, akurasi diperoleh dengan membandingkan hasil pengukuran dengan bahan rujukan standar (standard material reference material, SRM).

Untuk mendokumentasikan akurasi, ICH merekomendasikan pengumpulan data dari 9 kali penetapan kadar dengan 3 konsentrasi yang berbeda (missal 3 konsentrasi degan 3 kali replikasi). Data harus dilaporkan sebagai persentase perolehan kembali.
 (Gandjar, 2007)



Paracetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2, dihitung terhadap zat anhidrat. Pemerian: serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit. Kelarutan: larut dalam air mendidih dan dalma Natrium Hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol.
(Anonim, 1995)






DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI, Jakarta
Gandjar, Ibnu Gholib, dan Abdul Rohman, 2007, Kimia Farmasi Analsis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Huber, Ludwig, 1999, Validation and Qualification in Analytical Laboratories, Interpharm, London
Mursyidi, Achmad dan Rohman, Abdul, 2006, Volumetri dan Gravimetri, Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Khopkar, S.M., 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia Press, Jakarta


Load disqus comments

0 komentar